{"id":380,"date":"2018-03-04T10:52:48","date_gmt":"2018-03-04T10:52:48","guid":{"rendered":"http:\/\/ourtraveling.id\/?p=380"},"modified":"2020-08-21T23:52:00","modified_gmt":"2020-08-21T16:52:00","slug":"tertawan-pesona-cap-go-meh-singkawang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ivonesuryani.com\/?p=380","title":{"rendered":"Tertawan Pesona Cap Go Meh Singkawang"},"content":{"rendered":"<p>Ketika mendapat kabar bahwa saya menjadi salah satu pemenang lomba foto yang diadakan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional dan mendapat hadiah <em>traveling<\/em> ke Singkawang, apalagi bertepatan dengan Cap Go Meh 2018, rasanya seperti mendapat durian runtuh disaat tidak musimnya. Semua biaya <em>traveling<\/em> ditanggung penyelenggara lomba, <em>full board<\/em> deh, saya tinggal maju mundur cantik.<\/p>\n<p>Saya berangkat ke Singkawang dari Palembang, 28 Februari 2018, menggunakan maskapai yang transit di Pangkal Pinang dan Batam. Membuat perjalanan menjadi sedikit lebih panjang, namun tak mengapa. Hal ini justru membuat saya tahu bahwa ada penerbangan dari Pangkal Pinang dan Batam menuju Bandara Internasional Supadio, Pontianak, selain dari Jakarta. Tidak sulit untuk mengunjungi Singkawan, bukan?<\/p>\n<p>Sampai di Bandara Supadio, teman-teman dari GenPI telah menunggu saya. Kami melanjutkan perjalanan darat selama tiga jam menuju Singkawang.<\/p>\n<p><strong>Pawai Lampion<\/strong><\/p>\n<p>Langit Singkawang mulai gelap ketika kami sampai di kota ini. Kami langsung menuju Kantor Walikota Singkawang, mengejar Pawai Lampion yang mulai berjalan. Suasananya ramai, antusiasme masyarakat sangat tinggi merayakan Cap Go Meh di sini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_382\" aria-describedby=\"caption-attachment-382\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-382 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/DSC04175-1024x682.jpg\" alt=\"Pawai Lampion\" width=\"1024\" height=\"682\"><figcaption id=\"caption-attachment-382\" class=\"wp-caption-text\">Pawai Lampion di Singkawang<\/figcaption><\/figure>\n<p>Beragam penampilan ada pada iringan pawai, ada liong, barongsai, patung anjing tanah yang melambangkan shio tahun Cina saat ini, bahkan ada peserta yang berpenampilan ala hantu Cina. Kami larut dalam lautan manusia yang&nbsp;<em>happy<\/em> menikmati suguhan yang ada, bahkan kami juga berjalan mengikuti pawai.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-383 aligncenter\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-05.04.52-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"840\" height=\"560\"><\/p>\n<p>Satu hal yang membuat saya salut, pada barisan paling belakang ada dua truk sampah dan 32 petugas kebersihan yang ikut bergerak pelan mengikuti iring-iringan pawai. Petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan dan Pertamanan yang dikepalai Bapak H. Rustam Effendi ini bergerak sigap, berperan sebagai tim sapu jagat. Pawai selesai, sampah pun hilang. Keren!<\/p>\n<p><strong>Ritual Cuci Jalan<\/strong><\/p>\n<p>Ritual Cuci Jalan merupakan bagian dari Parade Tatung, sebuah tradisi tahunan yang memadukan budaya Tionghoa dan Dayak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_384\" aria-describedby=\"caption-attachment-384\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-384 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-05.08.20-1024x683.jpg\" alt=\"Vihara Tri Dharma Bumi Raya\" width=\"1024\" height=\"683\"><figcaption id=\"caption-attachment-384\" class=\"wp-caption-text\">Vihara Tri Dharma Bumi Raya<\/figcaption><\/figure>\n<p>Ritual ini dilakukan sehari sebelum Parade&nbsp; Tatung dilaksanakan, sebagai bentuk meminta restu dari para arwah untuk mensucikan jalanan kota dari pengaruh buruk, terutama jalan-jalan yang akan dilalui para Tatung saat acara puncak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_392\" aria-describedby=\"caption-attachment-392\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-392 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-05.31.38-1024x683.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"683\"><figcaption id=\"caption-attachment-392\" class=\"wp-caption-text\">Tatung yang sedang menunggu giliran untuk berdoa memohon restu di vihara pada Ritual Cuci Jalan<\/figcaption><\/figure>\n<p>Hal paling ekstrim yang saya alami saat menyaksikan Ritual Cuci Jalan di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat Kota Singkawang, saya disodori tubuh seekor anak anjing tanpa kepala, dengan darah segar yang terus mengalir, oleh seorang Tatung yang sudah kerasukan. Bau amis darah tercium. Saya jadi kapok? Nggak! Saya tetap berada di sekitar vihara. Buat saya, ini adalah budaya yang menarik untuk diketahui.<\/p>\n<p><strong>Parade Tatung<\/strong><\/p>\n<figure style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-04.31.44-1024x682.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"682\"><figcaption class=\"wp-caption-text\">Tatung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tatung adalah sosok orang yang menjadi media bagi roh leluhur dengan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah orang-orang &#8216;pilihan&#8217;, yang mau tidak mau, tidak dapat mengelak bila telah dipilih oleh para leluhur.<\/p>\n<figure id=\"attachment_386\" aria-describedby=\"caption-attachment-386\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-386 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-04.43.48-1024x768.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"768\"><figcaption id=\"caption-attachment-386\" class=\"wp-caption-text\">Tatung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Parade Tatung dilaksanakan pada Hari Jumat (2\/3), pukul 08.25 WIB. Pembukaan dilakukan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin didampingi Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, di Panggung Kehormatan Jalan Diponegoro, ditandai dengan pemukulan Tambur.<\/p>\n<figure id=\"attachment_387\" aria-describedby=\"caption-attachment-387\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-387 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-04.44.45-1024x768.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"768\"><figcaption id=\"caption-attachment-387\" class=\"wp-caption-text\">Tatung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tatung-tatung mulai berjalan melintasi jalan-jalan Kota Singkawang. Penampilan para Tatung ini menarik perhatian karena mengenakan busana dengan warna mencolok dan asesoris berupa senjata tajam yang panjang dan besar. Ekspresi wajah mereka kaku dengan sorot mata nanar atau bahkan tatapan&nbsp; kosong.<\/p>\n<figure id=\"attachment_388\" aria-describedby=\"caption-attachment-388\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-388 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-04.46.12-1024x1024.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"1024\"><figcaption id=\"caption-attachment-388\" class=\"wp-caption-text\">Tatung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mereka membawa senjata tajam bukan dengan cara dipegang, tapi ditusukkan di pipi atau bibir! Mak jleb, melipir saya melihatnya. Ada asesoris yang memang telah mereka kenakan sebelum pawai dimulai, ada juga yang mengenakannya di lokasi pawai, semacam atraksi. Hebatnya, gak berdarah lho!<\/p>\n<figure id=\"attachment_389\" aria-describedby=\"caption-attachment-389\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-389 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-04.45.22-1024x1024.jpg\" alt=\"Tatung\" width=\"1024\" height=\"1024\"><figcaption id=\"caption-attachment-389\" class=\"wp-caption-text\">Tatung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Saya mengambil posisi aman di Jalan Sejahtera, di sebelah kedai Kopi Nikmat, tidak jauh dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Lokasi ini sangat strategis menurut saya, selain berada di dekat vihara yang menjadi pusat bertemunya para Tatung, jalan ini juga tidak terlalu panas karena dilingkupi ruko-ruko tinggi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_391\" aria-describedby=\"caption-attachment-391\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-391 size-large\" src=\"http:\/\/ourtraveling.id\/wp-content\/uploads\/2018\/03\/PicsArt_03-04-05.17.25-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"768\"><figcaption id=\"caption-attachment-391\" class=\"wp-caption-text\">Tatung kecil (berpakaian warna hijau).<\/figcaption><\/figure>\n<p>Saat azan Sholat Jumat terdengar, pengurus vihara langsung memukul gendang yang menyerupai bedug dan serentak bunyi-bunyian pengiring Parade Tatung berhenti ditabuh.&nbsp;Ini yang membuat saya kagum, toleransi antar umat beragama di sini sangat tinggi.<\/p>\n<p><strong>Terciptanya Empat Rekor MURI<\/strong><\/p>\n<p>Pada Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini, diciptakan empat rekor MURI, yaitu:<\/p>\n<p>1. Pemasangan 20.607 lampion dengan lampu menyala di seluruh Kota Singkawang, membuat kota ini berpendar merah di malam hari. Jumlah ini memecahkan rekor tahun 2009 dengan 10.895 lampion.<\/p>\n<p>2. Sejumlah 1.129 Tatung didaftarkan untuk memecahkan rekor MURI sebelumnya. Pada tahun 2011 MURI juga mencatat ada 777 Tatung yang turut berpartisipasi.&nbsp; Peserta tahun ini tidak hanya datang dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia. Tampak bendera Malaysia diantara bendera-bendera kelompok peserta Tatung yang dibawa saat parade. Bahkan ada Tatung yang masih kecil lho, usianya sekitar 5 tahun.<\/p>\n<p>3. Santo Yosef Singkawang Group, sebuah kelompok etnis Tionghoa Singkawang, membuat replika 9 naga dengan ukuran besar dan menjadi jumlah naga terbanyak selama perayaan Cap Go Meh di Indonesia. Jumlah 9 sengaja dipilih karena bermakna keberuntungan.<\/p>\n<p>4. Gerbang Cap Go Meh terbesar di Indonesia, berukuran panjang 16,20 meter dan tinggi 6 meter. Gerbang yang dibuat menggunakan rangka besi ini diharapkan menjadi <em>landmark<\/em> Kota Singkawang kedepannya.<\/p>\n<p>Menjadi bagian perayaan Cap Go Meh di Singkawang tahun ini membuat saya benar-benar tertawan pesonanya. Gagal <em>move on<\/em> ini judulnya. Semoga tahun depan bisa ke sini lagi.<\/p>\n<p>Kalian tertarik juga? Ini event tahunan, jadi kita bisa merencanakan perjalanan ke sini jauh-jauh hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika mendapat kabar bahwa saya menjadi salah satu pemenang lomba foto yang diadakan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional dan mendapat hadiah traveling ke Singkawang, apalagi bertepatan dengan Cap Go Meh 2018, rasanya seperti mendapat durian runtuh disaat tidak musimnya. Semua &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":377,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[197],"tags":[199,203,202,201,200],"class_list":["post-380","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-traveling","tag-cap-go-meh","tag-kalimantan-barat","tag-pontianak","tag-singkawang","tag-tatung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=380"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/380\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1731,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/380\/revisions\/1731"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ivonesuryani.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}